Wow, Rumput Tetangga Lebih Hijau Ternyata

Pada suatu adegan di sinetron Dunia Terbalik ada pertemuan antara tukang sayur dan tukang parabot. Dilaog mereka berdua kemudian mengalir dengan enteng, tentang julan, marketing dan penghasilan. Tukang parabot menyangka enak jualan sayur, pun begitu tukang sayur menyangka enak jualan parabot.

Rumput Tetangga Lebih Hijau Ternyata tukang sayur dunia terbalik

Gambar tukang sayur di sinetron Dunia Terbalik via metube.id

“Jualan parabot mah enak, kalo tidak laku masih bisa dijual besok dan kapan saja lagi. Saya mah tidak laku, jadi layu, bisa-bisa tidak akan laku”, Kurang lebih begitu bahasa tukang sayur.

“Jualan sayur mah enak, jam segini sudah mau habis, jualannya pun tidak jauh-jauh, yang butuhnya hampir setiap hari. Saya mah jualannya harus keliling jauh tapi belum tentu laku, yang butuhnya pun tidak setiap hari, tidak seperti sayur”, Kurang lebih begitu bahasa tukang parabot.

Begitulah kita, sering memandang rumput tetangga lebih hijau dari kita. Sering terjebak dalam prasangka hidup orang lain lebih beruntung dari kita. Pekerjaan atau profesi orang lain lebih menguntungkan dibandiingkan kita.

Faktor mindset seperti itu sebenarnya yang membuat kita lupa melihat kedalam. Melihat bagaimana siapa kita dengan apa yang dimiliki dan dijalani sekarang. Puncaknya kita kehilangan rasa syukur, mengeluh berkepanjangan dan ujung dari semua penyakit ini adalah justru rizki semakin menjauh.

Loh apa hubungannya antara mengeluh dengan rizki menjauh? Yaa karena ujungnya sama “uh” heee bercanda.. Sing bener adalah buka saja Alquran, banyak ayat yang menjelaskan perihal ini. Contoh ayatnya donk !! ga ach, cari saja sendiri, biar nempel ilmunya, bukankah ilmu yang dicari dengan kebutuhan dan keinginan sendiri akan melekat bagai menyimpan memori di otak bawah sadar kita.

Intinya begini kawan, kita boleh kagum dengan pencapaian orang lain dalam hal apapun. Tapi jangan pernah melihat hasilnya, yang kita lihat prosesnya. Bagaiamana dia jatuh bangun, memikirkan strategi, tanpa menyerah bangkit, inovasi dan banyak lainnya termasuk proses kalau dia tidak jujur, sikut sana-sikut sini, berhutang yang juga penting kita ketahui proses hitam seperti itu sebagai rem dan cermin. Nah itu yang harus kita pelajari. Kalau konsepnya begini, maka kita bukan melihat rumput tetangganya, tapi kita lihat bagaimana tetangga menghijaukan rumputnya. Paham yaa…

Lihat perbedaannya, kalau konsepnya melihat rumput, maka yang ada yaa akan begitu saling berprasangka, minder, mengeluh bahkan bisa mengantarkan kita pada kategori iri dengki atau juga menjerumuskan kita kedalam penghalalan segala cara. Toh sebenarnya kita tidak tau keaslian nyatanya, apakah benar hijau atau hanya fatamorgana.

Seorang teman dipuja-puji oleh banyak orang, termasuk  keluarga jauhnya karena baru saja membeli mobil. Setiap orang ternyata memandang rumputnya dan parahnya ternyata rumput aslinya tidak hijau.

Sembari jalan menuju sebuah tempat, dia cerita pada saya, dialognya kurang lebih seperti ini:

“Parah kang, teman-teman memuji saya, katanya saya hebat, banyak uang dan bla.bla.bla !!!”

“Loh, yaa Alhamdulillah donk..”, saya menimpali dengan enteng

“Mereka tidak tahu kang, saya susah bahkan lebih susah dari mereka. Saya beli mobil tersebut dengan kredit, dan cicilannya menghabiskan semua gaji saya setiap bulan. Setiap bulan saya harus berjuang menutupi gaji, hidup tidak tenang, pusing malah yang ada”, terlihat dia menghela nafas, entahlah nafas menyesal atau bangga..???

Seperti itu salah satu contonya bray… haaa. Coba kalau mereka terus menerus melihat rumputnya, yaa akan sama mungkin dengan teman saya. Melakukan apapun untuk menghijaukan rumputnya. Padahal kalau saja yang dilihat prosesnya, pasti akan mengerem “ooh iya dia ngutang, pusing setiap bulan, ga ach, saya juga ngapain ngutang.. mendingan pelihara kendaraan yang ada saja, adem tanpa puyeng..”.

Tapi ada kan yang malah meniru, walau konsepnya sudah melihat proses, “oo dia ngutang, ach saya juga ngutang, urusan cicilan mah gimana nanti, dia saja bisa masa saya tidak”. Nah kalau kasusnya seperti ini, berarti orangnya gila sudah tidak normal. Laa wong sudah tahu masuk jurang, malah ikut. Sudah tau tetangga menghijaukan rumputnya dengan racun, eh malah ikut… Gemblung.. hiii.

Sudahlah jangan melihat orang lain dengan rumputnya, belum tentu mereka enak seperti prasangka kita. Mendingan sekarang mentafakuri diri, berterima kasih pada-Nya atas apa yang sudah kita miliki.. ingat yang kita miliki.

Wah, sudah ach segitu saja.. takut terbawa error seperti saya..heee.

NB : Kalau melihat tulisan ini bagus.. jangan lihat tulisannya, tapi lihat prosesnya.. Berat Coyyy.. Haaaa.. Piss, damai jiwa, damai raga, damai alam semesta…!!!

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…