Infokeren.id, Tatang dalam “Dunia Terbalik” benar-benar gambaran umum masyarakat kita. Dia menjadi sosok yang sangat mewakili masyarakat kita saat ini. Yaa, berani berhutang untuk sebuah gaya hidup. Tanpa pernah memperhitungkan cicilan dan resikonya. Rela berpusing-pusing ria setiap bulan, hanya untuk mendapat pengakuan dimata masyarakat.

Tidak sedikit dari masyarakat kita mengikuti hawa nafsu duniawi dengan berhutang untuk mendapatkan sesuatu. Lalu kemudian terjebak dalam ketakutan, kekhawatiran, hidup yang tidak tenang karena dikejar-kejar cicilan.

Kita berani berhutang untuk sesuatu yang sebenarnya belum terlalu kita butuhkan. Keinginan dan kebutuhan itu jelas perbedaannya. Kita sering tersiksa oleh keinginan. Tatang menjadi contohnya, padahal jalan kaki masih nyaman dan aman, buktinya ketika dia nunggak belum bayar ke leasing, Tatang malahh sering jalan kaki. Lalu buat apa motor tersebut? Yaa buat nafsu dan pengakuan.

Tatang Dunia Terbalik Mengejar Pengakuan, Menuruti Nafsu, Menyiksa Hidup Sendiri
Tatang Dunia Terbalik RCTI

Setiap bulan hidup Tatang dihantui leasing. Suara sms atau bunyi telpon membuat dia khawatir itu dari leasing. Ach sudahlah, hutang tanpa perhitungan memang membuat kita susah.

Padahal kalau mau, sudahlah hidup seadanya saja, semampunya saja. Rizki dari Alloh itu cukup untuk hidup kita, yang tidak cukup itu karena gaya hidup kita.

Hanya demi gaya dimata orang lain kita pontang-panting memenuhi ke-gaya-an tersebut. Tidak peduli itu hutang atau riba. Nah kalau sudah terjebak di hutang, apakah orang lain ikut memikirkan cicilannya? Tidak kan?.

Biarkan saja orang lain mau berkata apapun, berpendapat apapun tentang keadaan kita, toh yang paling tau dengan hidup kita kan kita sendiri. Jangan sampai kita berada dalam hidup penuh kepalsuan, berpura-pura bahagia padahal tersiksa.

Saya pernah ngalamin, waduuuuh kapok dikejar-kejar penagih hutang. Tidur dihantui mimpi buruk, makan ga terasa nikmat, mau keluar rumah was-was… tersiksa pokoknya. Belajar dari sana, alhamdulillah hidup saya sekarang lebih nikmat, adem, aman dan bener rizki ini cukup, meski sedikit tapi yaa dicukupkan saja oleh Alloh. Berbanding terbalik dengan beberapa teman yang penghasilannya bisa sekian kali lipat dari saya, tapi koq kekurangan terus, masih hutang ke bank ini bank itu, masih nyicil ini nyicil itu. Kecukupan itu bukan dilihat dari nominal, tapi dinilai dari keberkahan.

Artikel ini ingin saya tutup dengan hadists nabi yang sudah memperingatkan kita tentang hutang, seperti yang diriwayatkan Baihaqi :”berhati-hatilah kalian dalam berhutang, sesungguhnya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan menyebabkan kehinaan di siang hari”.

Berhutanglah sesuai dengan kemampuan, berhutanglah tanpa riba, berhutanglah untuk memenuhi kebutuhan mendesak dan terdesak, berhutanglah yang membuat kita masih di posisi aman financial…