Dunia Terbalik Menjadi Titik Balik Diantara Keringnya Tuntunan Sebuah Tontonan

Kalian suka nonton sinetron Dunia Terbalik? Kalo iya berarti sama dengan saya. Dalam kekeringan tontonan yang menghibur dan menuntun, Dunia Terbalik hadir seperti hujan yang menyegarkan jiwa.

Betapa tidak, lihat sekarang sinetron di televisi, secara langsung maupun tidak langsung telah mengajarkan generasi kita miskin tuntunan. Kekerasan, kemewahan, kebencian, fiktif berlebihan, perzinahan hingga semua unsur budaya pembangun karakter anak bangsa nyaris hilang.

Dunia Terbalik setidaknya menampilkan kehidupan nyata yang sering kita alami, bukan imajinasi yang penuh angan-angan. Masyarakat menengah kebawah seakan merasa terwakili kisahnya di sinetron ini.

Sinetron Dunia Terbalik RCTI

Dan yang membuat saya mengacungkan jempol untuk sinetron ini adalah tentang “makna”. Bagaimana Dunia Terbalik selalu meyimpan makna di setiap scene adegannya, mengajarkan hidup pada penonton tanpa kesan menggurui. Mencerahkan kabut masalah masyarakat kita dengan tanpa bermaksud mengarahkan dengan pongah.

Makanya jangan heran, sinetron ini sejak launching episode pertama telah mendapat tempat dihati penonton. Ratingnya pun tinggi, bahkan sampai sekarang belum ada sinetron yang mampu menggeser.

Cerita yang sederhana tapi mewah oleh pelajaran hidup. Cerita yang berkutat di dua kampung itu (Ciraos dan Cidahu) tapi penonton tidak pernah merasa jenuh dan bosan. Dan puncaknya adalah Dunia Terbalik telah menjadi hiburan rakyat. Mengajak masyarakat kita tersenyum, tertawa melupakan segenap hiruk pikuk bangsa ini yang semakin berat untuk dipikirkan masyarakat bawah. Sekaligus pencerahan hidup yang secara tidak langsung menempel dan berkarat di sanubari masyarakat kita.

Selain hiburan dan makna hidup. Dunia Terbalik juga mampu membuat karakter disetiap pemerannya unik. Ini menjadi kekuatan lain yang membedakan dengan sinetron lainnya. Nyaris semua peran di Dunia Terbalik tidak ada yang sama, bahkan khas.

Lihat idoy dengan tipikal tulalitnya, Akum dengan feminimnya, Aceng dengan mata keranjangnya, Dadang dengan matrealistisnya, Ustad Kemed dengan gaya so’ nya atau Bagja dengan “Leuleus Liat”nya. Dan masih banyak lagi peran lainnya : Ceu Yoyoh, Cucu, Asih, Mimin, Entin, Mul, Ujang, Tatang, Asep, Kusoy, Pa Saum, Ojat Parabot, Tukang Sayur, Ma Suha, Wa Syain, Hansip, Encun, Kang Dasep, pa Mutaqin, Tuti, Dedeh, Shobri,  dan masiiiiiih banyak lagi perannya.

Coba tanya para penonton dalam keadaan tidak menonton langsung. Ketika kita sebutkan nama Akum misalkan, maka bayangannya langsung ke kang Akum dengan segala tingkah khasnya. Ini yang kemudian menjadi warna baru di masyarakat kita. Bahkan saya terkadang dengan beberapa teman suka menjadikan tokoh-tokoh ini masuk kedalam obrolan yang penuh canda.

Luar biasa memang Dunia Terbalik, penuh kreatifitas, khas dan edukatif.

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…